RSS

FENOMENA SEKS MENYIMPANG
KOMUNITAS WANITA “BELOK”



Kehidupan kaum lesbi sudah berasal sejak jaman kuno. Pada masa Nabi Luth, kehidupan lesbi tumbuh subur dan bersanding dengan para gay. Kota yang terkenal menjadi kehidupan kedua penganut pola hidup ini adalah kota Sodom dan Gomora. Akhirnya kedua kota tersebut mendapat laknat berupa penghancuran dari Tuhan. Namun, budaya tersebut tidak serta merta hilang seiring dengan musnahnya kota Sodom dan Gomora. Meski sebagian masyarakat masih belum bisa menerima orientasi seksual yang demikian, namun eksistensi kaum lesbi masih saja ada.
Di kota-kota besar, kehidupan kaum lesbi mulai lebih terbuka. Jika sebelumnya para lesbi hanya berani sembunyi-sembunyi dalam melakukan aktivitasnya, kini mereka sudah mulai berani menunjukkan eksistensinya. Salah satunya dengan membentuk organisasi yang mewadahi kaum lesbi tersebut.
Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh makin longgarnya penerapan norma susila di masyarakat. Selain juga karena makin tingginya rasa individualisme di kota-kota besar. Apalagi perilaku seks bebas di kalangan muda turut mempengaruhi meningkatnya pertumbuhan kaum lesbi ini.
Penyebab seks menyimpang “Wanita Belok”
Lesbianisme adalah salah satu bentuk penyimpangan seksual disebabkan adanya partnerseks yang abnormal. Yaitu dimana seorang wanita mendapatkan kepuasan seksual dengan melakukan hubungan seks dengan wanita yang lain. Penyebab masih perdebatan, satu sisi mengatakan disebabkan gen yang telah dibawa sejak lahir dan satu sisi menganggap bahwa lesbianisme distimulir oleh faktor-faktor eksogen atau faktor lingkungan. Atau mungkin saja dapat karena kedua – duanya.
Salah satunya adalah masalah trauma masa lalu. Banyak pelaku lesbi yang merasa dendam pada lelaki, setelah pada masa kecil sering melihat ayahnya menyiksa sang ibu. Sehingga ketika dewasa, dendam yang dibalut rasa trauma menjadikan perempuan tidak percaya dan enggan menjalin hubungan dengan lelaki manapun.
Perbedaan perilaku juga menjadi satu faktor penyebab lesbi. Perempuan yang pada dasarnya menyukai kebersihan, kerapian dan keindahan seringkali tidak bisa menerima kebiasaan lelaki. Lelaki pada umumnya memiliki pola hidup yang tidak teratur, jorok, dan kurang perhatian pada pasangannya.
Dengan menjadi lesbi, para perempuan itu seperti mendapat kedamaian. Semua yang menjadi pola hidupnya, bisa didapat dari pasangan lesbinya. Sebab, bagaimanapun seorang lesbi tetaplah perempuan meski dalam hubungannya ada yang memposisikan diri sebagai laki-laki.

Perilaku menyimpang komunitas wanita “belok”
Di Makassar contohnya, istilah cowek dan cewok dipakai dan terkenal pada tahun 1990-an, oleh komunitas lesbi Makassar. Sedangkan istilah butchi mulai dikenal pada tahun 2000-an. Di kalangan waria atau banci, wanita "belok" punya sapaan sendiri. Si butchi, atau "si lelaki" disebut lesbon. Sedangkan si femme, dikenal dengan lesbonita.
Kaum lesbi maupun kaum homoseksual di Makassar, cenderung saling menghindari antarkomunitasnya masing - masing, begitupun terhadap komunitas waria dan gay. Mereka selalu saling menghindari, dan mencari tempat bersantai sendiri-sendiri. Kaum waria atau pun banci tersebut sangat senang bila dikatakan bahwa mereka cantik, sedangkan kaum lesbonita akan tersinggung bila dikatakan demikian. Selain itu, waria memiliki sifat yang lebih terbuka, sedangkan komunitas lesbon maupun lesbonita cenderung lebih tertutup. Hal inilah yang menyebabkan sampai saat ini, belum pernah ada kontes wanita “belok”, sedangkan untuk kontes kecantikan waria sudah beberapa kali digelar.
Solidaritas, kesetiakawanan atau kesetiaan lebih adalah nilai yang menonjol di kaum lesbi. Secara naluri, wanita adalah sosok yang ingin selalu didengar dan mendengakan, maka ketika seorang lesbonita bertemu dengan pasangannya yang sesame lesbonita, mereka akan menjadikan urusan “asmara” diantara keduanya sebagai urusan nomor dua, yang terpenting adalah mereka dapat saling mencurahkan keluh kesah, pikiran, masalah, dan perasaan, dengan saling berdekapan satu sama lainnya.
Lesbi Makassar, bergaul dan bersosialisasi sesuai kelompok umur, ABG (15-20 tahun), muda (20-26 tahun), dewasa (27-37 tahun), dan tante atau mami - mami (37-tahun ke atas). Meskipun terkadang, ada yang kemudian bergaul lintas klasifikasi umur demi mencapai kepuasan seks yang lebih

Posisi komunitas wanita “belok” dalam masyarakat
Setiap identitas status yang melekat pada seseorang, setiap keputusan yang dibuat, setiap tindakan yang dilakukan pasti mengandung resiko. Bahkan hidup sendiri adalah sebuah resiko yang harus dijalani dan dihadapi. Demikian juga dengan identitas seksual, baik itu heteroseksual, homoseksual, biseksual semuanya memiliki resiko yang harus dijalani dan dihadapi. Termasuk seorang wanita “belok”.
Keberadaan komunitas wanita seperti ini di tengah-tengah masyarakat dan di dalam berinteraksi / bersosialisasi dengan lingkungan senantiasa dihadapkan pada hukum, norma, nilai-nilai, dan aturan tertulis maupun tidak tertulis, serta stereotipe yang berlaku di masyarakat. Misalnya saja hukum negara yang tidak memperbolehkan terjadinya pernikahan antara sesama jenis kelamin, norma agama yang tidak memperbolehkan hubungan homoseksual, aturan tidak tertulis yang berlaku di masyarakat untuk menghindari relasi dengan kaum “belok”, menutup kesempatan bagi kaum homoseksual untuk berkarya / bekerja, bersekolah atau pun kesempatan untuk mendapat pelayanan kesehatan yang sama dengan yang lain.
Situasi di atas berpotensi menghasilkan reaksi dan perlakuan yang bermacan-macam dari lingkungan di sekelilingnya. Ada yang bersikap biasa, ada yang memandang sebelah mata, ada pula yang hingga perlakuan yang tidak menyenangkan seperti dikucilkan, disisihkan / dijauhi oleh keluarga, teman, dan lingkungan kerja, serta masyarakat.
Inilah sekelumit gambaran resiko-resiko yang kerap dihadapi oleh kaum “belok” ketika mereka berada di tengah-tengah masyarakat dan menjalin interaksi / bersosialisasi dengan lingkungannya. Tidak menutup kemungkinan ada yang menghadapi situasi dan respon berbeda dari masyarakat. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan hukum dan budaya yang berlaku antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Dengan demikian sangat mungkin terjadi kaum “belok” tertentu di masyakat A dengan budaya dan nilai-nilai tertentu memiliki resiko perlakuan yang berbeda dengan kaum homoseksual di masyarakat B dengan budaya dan nilai-nilai yang tidak sama.


Sumber refrensi :
http://bumi-tuntungan.blogspot.com/2010/08/penyebab-dan-ciri-tanda-cewek-wanita.html
http://www.tribunnews.com/2010/12/14/kaum-lesbon-marah-jika-disebut-cantik-3.htm
http://www.bukisa.com/articles/461228_foto-lesbi.htm
http://www.e-psikologi.com/epsi/Klinis_detail.asp?id=566.htm
http://www.e-psikologi.com/epsi/Klinis_detail.asp?id=551.htm

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 comments:

Anderwoman mengatakan...

hyyy

Almin Jawad Moerteza mengatakan...

mantap saya suka tulisannya-pasti sering diskusi dengan Ipul...

anaa kosong sembilan mengatakan...

ehehehe..
kk ipul sangat terkenal sebagai ahlinya wacana - wacana yang seperti ini yahh,,
ahahah, lagi - lagi dengan "gender alternatif"nyaaa.
jempol juga buat tulisan - tulisannya kk, saya suka tulisan - tulisan di blognya. :)

Lesbian mengatakan...

Maaf bicara soal lesbi ni ya, q punya sedikit cerita. Kalau tertarik silahkan klik namaku.

anaa kosong sembilan mengatakan...

woww

Anonim mengatakan...

tulisan yang bagus....! keep writing about "belok"... ;)

Raja Pk mengatakan...

* Jual Obat Aborsi,,

* Obat Penggugur Kandungan Janin,,

* Obat Penggugur Kandungan,,
* what I have read on this page is enough to make me satisfied can menik die this article thanks greetings *

Anonim mengatakan...

tuzla beko klima servisi
çekmeköy lg klima servisi
ataşehir lg klima servisi
çekmeköy daikin klima servisi
tuzla mitsubishi klima servisi
çekmeköy vestel klima servisi
ataşehir vestel klima servisi
çekmeköy bosch klima servisi
ataşehir bosch klima servisi

ırmak mengatakan...

mersin
zonguldak
afyon
kocaeli
kayseri

4SİRVN

sude mengatakan...

erzincan
bolu
tunceli
şırnak
adana
X8E8N

Posting Komentar